gita gutawa

biography

gita gutawa

aluna sagita gutawa

Walau mengenal musik sejak kecil, gadis kelahiran 11 Agustus 1993 ini sesungguhnya tak pernah bercita-cita berprofesi di dunia musik sebagaimana sang ayah, Erwin Gutawa. Namun ternyata, suratan hidup berkehendak lain. Melihat talenta Gita yang kala itu masih berusia 11 tahun, ADA Band terpikat pada Gita untuk berduet dalam lagu “Yang Terbaik Bagimu”. Itulah titik awal masyarakat mengenal sosok Gita Gutawa.

Album pertamanya “Kembang Perawan” (2007) meraih Quadruple Platinum dan menjadikannya sebagai Penyanyi Pendatang Baru Terbaik  dan peraih Album Terbaik versi AMI 2008. Di tahun yang sama, Gita pun meraih juara Grand Prix pada ajang kompetisi menyanyi International Nile Song Festival di Kairo, Mesir.

Karir Gita di dunia musik tak lagi dapat terbendung. Album berikutnya “Harmoni Cinta” (2009) serta album religinya “Balada Shalawat” (2010) juga direspon positif. Belum lagi beberapa single sebagai OST (Original Sound Track) dalam film-film seperti “Love” (2008), “Laskar Pelangi” (2008), “Meraih Mimpi” (2009), dan “Love in Perth” (2010).

Sukses di dunia musik, membawa langkah Gita ke dunia iklan dengan menjadi model serta brand ambassador beberapa produk ternama. Dunia peran – baik di layar kaca maupun layar lebar – juga sempat dijajakinya.

Satu catatan penting lainnya dalam karir sebagai penyanyi adalah ketika ia menggelar konser tunggal “Kotak Musik” pada tahun 2010, saat usianya masih 16 tahun. Tidak cuma tampil di atas panggung, Gita juga merancang sisi kreatif konser ini. Konser penyanyi belia yang dipersembahkan secara professional itu begitu menyedot animo penggemar musik. Seminggu sebelum pertunjukan, tiket habis terjual.

Betapapun, gemerlap dunia hiburan tidak membuatnya mengesampingkan pendidikan formalnya. Terbukti, berbagai prestasi akademis selalu diperolehnya. Sejak SD hingga SMA, Gita selalu mendapatkan gelar juara umum di sekolah. Dalam buku “Kotak Musik”, ia juga pernah berbagi soal karir dan prestasi akademisnya.

Pada tahun 2011, Gita pun melanjutkan pendidikan S1 jurusan ekonomi di University of Birmingham, Inggris. Dan di tahun 2014, Gita mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di salah satu universitas terbaik dunia, London School of Economics and Political Science, dengan jurusan Culture and Society.

Kedekatannya dengan sosok Erwin Gutawa sebagai sosok ayah yang hangat dan pemusik yang dikagumi juga kerap melahirkan diskusi yang produktif. Salah satu hasil diskusi mereka berdua – sebagai buah dari gagasan Gita – adalah lahirnya project “Di Atas Rata-rata”. Banyak anak muda Indonesia yang memiliki bakat musik istimewa namun tidak mendapatkan kesempatan tampil. Melalui project “Di Atas Rata-rata”, Gita ingin membentangkan permadani merah sebagai wujud apresiasi dan sekaligus pijakan bagi mereka untuk menapaki langkah menuju kegemilangan musik Indonesia di masa mendatang. Totalitas Gita dalam project “Di Atas Rata-rata” terlihat dari sederet tanggung jawabnya semisal mengonsep jenis lagu yang cocok, mencipta lagu, membangun image, mengoreksi dan memberi masukan.

Pada tahun 2014, Gita meluncurkan albumnya yang berjudul “The Next Chapter” dimana ia memberanikan diri berlaku sebagai produser. Album ini menandakan sebuah babak baru bagi Gita, yang lebih dewasa dan mandiri dalam bermusik. Gita menciptakan hampir semua lagu yang terdapat di album ini dan menenentukan sendiri arah musiknya. Gita juga bekerja dengan musisi-musisi kelas dunia seperti London Symphony Orchestra dan produser-produser musik dari The Kennel, Swedia.

Kini Gita memposisikan dirinya tak hanya di depan, tapi juga di belakang layar. Sebuah keputusan dewasa dari seorang gadis muda. Gita berkata bahwa yang mendorongnya adalah ketertarikannya pada “proses” – menciptakan sebuah ide dan mengubahnya menjadi kenyataan. Gita adalah seseorang yang memiliki passion, talenta, ilmu, dan pengalaman. Tak heran ia kerap menjadi inspirasi bagi anak muda dan karyanya selalu dinanti-nanti.